MERAPAT KEPADA
“Orang Kecil”
Oleh : Fahmi Ari Yoga, SH
Dari Sa’ad bin
Abi Waqqash –semoga Allah meridoinya- dia mengatakan, “Kami (berkumpul) berenam
bersama Rasulullah saw., maka berkatalah orang-orang musyrik kepada beliau,
‘Usirlah mereka agar mereka tidak berani-berani kepada kami’. Dan aku saat itu
bersama Ibnu Mas’ud, dua orang dari (kabilah) Hudzail, Bilal, dan dua orang
lagi tidak kuhafal namanya. Maka terjadilah pada hati Rasulullah apa yang Allah
kehendaki terjadi (yakni hampir terpengaruh untuk mengikuti keinginan orang
kafir itu, pen.) lalu ia berbicara pada dirinya. Maka Allah swt. menurunkan:
‘Dan janganlah kalian mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi
dan petang hari dengan mengharapkan wajah Allah’ (Al-An’am 52).” (Hadits Shahih
riwayat Muslim)
Hadits di atas mengarahkan kita agar menjadikan
nilai-nilai ilahiyyah sebagai standar untuk menentukan pilihan: apakah kita
mendekat atau mengambil jarak dengan seseorang atau suatu komunitas.
Nilai-nilai material duniawi sama sekali tidak boleh menjadi parameter dalam
hal itu. Dan untuk itulah Rasulullah saw. diingatkan oleh Allah swt.
Sayyid Quthb mengemukakan, “Inti persoalannya bukanlah
sekedar bagaimana seharusnya seorang manusia diperlakukan atau bagaimana
seharusnya sekelompok manusia diperlakukan. Dimensinya lebih jauh dan lebih
agung dari sekedar itu. Inti persoalannya adalah: bagaimana seharusnya manusia
menimbang segala urusan dalam kehidupan ini? Dari mana manusia mengambil
nilai-nilai untuk dijadikan parameter?
Dan arahan rabbani dalam ayat itu menegaskan bahwa
hendaknya manusia di muka bumi mengambil nilai-nilai dan parameter dari
pandangan Allah saja, yang datang kepada mereka dari langit, tidak
terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan rendahan bumi. Nilai-nilai yang bukan
muncul dari pandangan-pandangan yang terikat dengan kepentingan bumi.” (Fi
Zhilalil-Quran, juz 6: 3825)
Rasulullah saw. juga pernah ditegur Allah swt. karena
mengabaikan orang kecil, buta pula, yang ingin meningkatkan pemahaman tentang
Islam dan mengamalkannya. Orang itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Sehingga
karena begitu terkesannya Rasulullah saw. oleh perinstiwa tersebut, jika
bertemu dengannya, beliau sering kali mengucapkan kalimat, “Selamat datang
orang yang karenanya Allah menegurku.” Ya, wajar bila kalimat itu sering
dilontarkan oleh Rasulullah saw. kepada Ibnu Ummi Maktum, sebagai pernghormatan
terhadapnya. Memang karena Ibnu Ummi Maktum itulah Allah swt. Menurunkan ayat:
“Ia
bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang kepadanya orang yang buta.
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.
Ada pun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal
tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri. Dan ada pun orang
yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia
takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali janganlah demikian!
Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (‘Abasa 1-11)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “Saat itu
Rasulullah saw. ingin Ibnu Ummi Maktum itu diam agar memberinya waktu berbicara
kepada orang-orang itu sebab Rasulullah sangat terobsesi untuk menarik mereka
ke dalam Islam.” (Tafsir Ibnu Katsir juz IV: 471)
Da’i memang sangat berpeluang tergoda untuk hanya suka
merapat kepada orang-orang ‘gede’. Baik dari sisi pengaruh, jabatan, kekuasaan,
kekayaan, atau dalam sisi lainnya. Sangat boleh jadi ada pembenaran yang tampak
logis untuk pilihan itu. Seperti pembenaran yang juga dimiliki Rasulullah saw.:
jika kepalanya terpegang, maka ekornya pasti akan ikut. Akan tetapi jangan
lupakan hal-hal berikut:
Pertama, dakwah adalah proyek penyebaran hidayah
Allah untuk penyelamatan diri dan manusia dari kehancuran dan adzab Allah.
Karenanya, dakwah adalah proyek penyelamatan manusia orang per orang.
Kedua, dakwah itu milik semua orang dalam segala
lapisan dengan tidak membeda-bedakan status sosial dan kedudukannya. Apalagi
Rasulullah saw. memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana ditegaskan
dalam ayat-Nya: “Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan untuk
seluruh manusia.” (Saba: 28).
Ketiga, orang-orang yang mempunyai pengaruh
biasanya memiliki kepentingan lebih banyak dan besar daripada orang-orang
kecil. Karenanya, akan banyak gangguan untuk memiliki ketulusan dalam menerima
Islam. Lebih-lebih kalau kemudian dia akan kehilangan segala posisi bila masuk
Islam atau masuk dalam barisan dakwah. Makanya Allah menggambarkan orang-orang
semacam itu dengan “manistaghna” (orang yang merasa berkecukupan), orang yang
merasa mempunyai cukup kekuatan untuk mengeksploitasi manusia baik dalam bentuk
harta, kekuasaan, kekuatan, pendukung dan sebagainya.
Rasulullah saw. pernah diingatkan Allah swt. saat hampir
terpedaya dengan jebakan itu: “Jika saja tidak kami teguhkan (hati) engkau
niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada. Kalau terjadi demikian
benar-benarlah Kami akan timpakan (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu
(pula sikaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak mendapat seorang
penolong pun terhadap Kami.” (Al-Isra: 74)
Keempat, memang orang-orang berpengaruh besar
yang mendapat hidayah Allah dan kemudian menjadi pembela Islam tidak sedikit.
Namun harus diingat bahwa segala upaya untuk itu jangan sampai mengabaikan
orang-orang yang jelas-jelas ingin membersihkan diri dan secara tulus ingin
menjadi Muslim yang baik. Sejarah perjuangan para nabi dan para dai membuktikan
bahwa pendukung pertama dakwah adalah wong cilik. Allah swt. menggambarkan:
“Mereka (orang-orang kafir) mengatakan, ‘Haruskah kami
mengikuti kamu padahal yang mengikuti kamu adalah orang-orang hina’.”
(Asy-syu’ara: 111)
“Maka berkatalah para elit orang kafir dari kaumnya,
‘Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai seorang manusia (biasa) seperti
kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan
orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja’.” (Hud: 27)
Secara umum, orang kecil –karena mereka tidak punya
banyak kepentingan, selain hidup sejahtera– cenderung lebih mudah menerima
dakwah. Di samping itu mereka sering menjadi sasaran kezaliman para elit
tersebut. Dan mereka mendapatkan kemerdekaan dan penghormatan hanya manakala
mereka berada dalam pangkuang Islam dan dakwah.
Oleh karenanya, hanya tertarik berdakwah kepada
orang-orang ‘besar’ dan mengabaikan dakwah terhadap orang-orang ‘kecil’ adalah
tindakan sangat rendah dan hina. Baik kecil dalam pengertian status sosial dan
kepemilikan harta maupun kecil dalam pengertian jumlahnya sangat sedikit dan
bukan perkumpulan massal. Dan lebih nista lagi, bila seorang dai lebih tertarik
melayani dakwah di tengah orang-orang gedean itu karena ‘penghargaannya’
(maksudnya harga bayarannya) lebih besar. Allah swt berfirman, “Ataukah kamu
meminta upah kepada mereka sehingga mereka terbebani dengan hutang.” (Ath-Thur:
40 & Al-Qalam: 46)
Jadi, bila ada orang atau masyarakat kecil yang
benar-benar ingin melakukan pembersihan jiwa terabaikan hanya gara-gara mereka
tidak dapat memberikan ‘penghargaan’ yang memadai, maka para dai akan diminta
pertanggungjawaban oleh Allah swt. Allahu a’lam.
|