Karena TAPAK SUCI merupakan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, Ketua Umum Pimpinan Pusat Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH, H. Muchdi Purwopranjono, PBr, mengingatkan dan mengajak segenap keluarga TAPAK SUCI untuk menghidupkan kembali budaya kultum pada setiap acara/kegiatan dimulai, baik apakah itu acara pertemuan atau rapat, maupun acara latihan di lapangan. Hal ini disampaikan oleh Pak Muchdi mengingat banyak sekali manfaat dan hikmah dari kultum, selain juga untuk menghindari insan TAPAK SUCI dari hal dan perkataan yang tidak berguna.
“Kultum itu akan memberi banyak manfaat karena disitu kita saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, selain juga melatih insan TAPAK SUCI dalam berbicara di depan umum, mengemukakan pendapat dengan lugas dan jelas, kultum juga akan mendorong si pembicara untuk lebih mempelajari dan mendalami ilmu agama sehingga seorang insan TAPAK SUCI juga harus mampu jika suatu saat menjadi khatib”, ujar Pak Muchdi. Kultum, atau kuliah tujuh menit, adalah penyampaian materi yang umumnya berbentuk siraman ruhani secara ringkas yang disampaikan oleh pembicara dalam batas waktu tertentu yaitu sekitar tujuh menit. Di Muhammadiyah, kultum ini adalah budaya turun temurun sejak dulu. Biasanya kultum ini diberikan pada saat sebelum rapat atau pertemuan, atau juga pada saat sebelum atau sesudah pelaksanaan shalat berjamaah. Di TAPAK SUCI sendiri pemberian kultum selalu dilakukan pada setiap awal latihan, dengan pembicara yang bergiliran.
Dengan batasan waktu hanya sekitar tujuh menit, akan melatih si pembicara untuk menyampaikan sesuatu dengan singkat namun jelas. Karena hanya sekitar tujuh menit maka tidak akan memakan waktu yang sangat lama. Maka pemberian kultum dipastikan tidak akan mengganggu aktifitas lainnya, dan pembicaraan pun tidak akan melebar kemana-mana. Dengan pemberian kultum pun dapat menghindari perkataan yang tidak berguna semacam gosip, kebiasaan yang kerap dilakukan jika orang berkumpul. Dan biasanya bergosip itu tidak cukup hanya tujuh menit, sehingga sayang sekali banyak waktu yang terbuang. Padahal, untuk melakukan suatu kebaikan ternyata sebetulnya kita hanya butuh tujuh menit.
Kebiasaan Kultum sudah dipraktekkan di dalam rapat-rapat harian Pimpinan Pusat TAPAK SUCI. Untuk itu hal ini agar tetap dipertahankan dan dihidupkan kembali dalam keluarga besar TAPAK SUCI, pada setiap tingkat pimpinan.
|