|
Halaman 1 dari 2
Kemampuan berbahasa pada sebuah organisasi dapat terlihat dari kemampuan
orang-orang di dalam organisasi tersebut dalam menggunakan bahasa Indonesia
dengan baik dan benar--baik secara lisan maupun tulisan. Terlebih dalam rangka
untuk penulisan karya tulis, surat atau korespondensi, penyiaran atau
pengumuman, pemuatan berita, penulisan artikel, penulisan anggaran dasar atau
aturan lainnya, ataupun tugas-tugas bidang kesekretariatan lainnya, maka
keterampilan berbahasa sesungguhnya juga menjadi kebutuhan bagi sebuah organisasi.
Cermat berbahasa
Indonesia, adalah amal ibadah kita sebagai manifestasi dari rasa cinta tanah air
Indonesia. Tulisan ini adalah bagian pertama dari rangkaian tulisan yang
mengangkat masalah keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang
kiranya dapat berguna untuk setiap anggota dan pengurus TAPAK SUCI.
a. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat berupa petikan
langsung.
Misalnya:
1. Dia bertanya, "Kapan kita pulang"
2. Ketua Umum
mengatakan, "Sudah seharusnya TAPAK SUCI kini berbenah diri."
3. Rasulullah
bersabda, "Dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu ada
di neraka."
Catatan:
Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma
(,), bukan titik dua (:). Tanda baca akhir (tanda titik, tanda seru, dan tanda
tanya) dibubuhkan sebelum tanda petik penutup.
b. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf
pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci,
dan nama Tuhan, termasuk kata ganti-Nya. Huruf pertama pada kata ganti ku, mu, dan nya, sebagai kata ganti Tuhan, harus
dituliskan dengan huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Hal-hal
keagamaan itu hanya terbatas pada nama diri, sedangkan kata-kata yang
menunjukkan nama jenis, seperti jin, iblis,
surga, zakat, puasa- meskipun bertalian dengan keagamaan tidak diawali
dengan huruf kapital.
Misalnya:
1. Limpahkanlah rahmat-Mu, ya
Allah.
2. Semoga Allah Yang Mahakuasa memberkati usaha kita.
3. Menunaikan
zakat adalah termasuk salah satu dari Rukun Islam.
Kata-kata keagamaan
lainnya yang harus ditulis dengan huruf kapital adalah nama agama dan kitab
suci.
c. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf
pertama nama gelar (kehormatan, keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang
diikuti nama orang.
Misalnya:
1. Pergerakan itu dipimpin oleh Haji
Agus Salim.
2. Atas restu dari Pendekar Besar M. Wahib, maka didirikanlah
Perguruan Kauman (atau Cikauman) pada tahun 1925.
3. Sebelum dipugar menjadi
museum, dahulu bangunan ini adalah kediaman Jenderal Soedirman.
Jika
tidak diikuti oleh nama orang atau nama wilayah, nama gelar, jabatan, dan
pangkat itu harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya:
1. Jemaah haji
Indonesia sudah mulai kembali ke tanah air.
2. Pertemuan itu dihadiri oleh
pendekar-pendekar dari pusat.
3. Ia bercinta-cita menjadi
jenderal.
Akan tetapi, jika mengacu kepada orang tertentu, nama gelar,
jabatan, dan pangkat itu dituliskan dengan huruf kapital.
Misalnya
1.
Acara itu dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
2. Dalam
sambutannya, Ketua Umum mengharapkan agar setiap anggota lebih ulet
mengembangkan kemampuannya untuk kepentingan TAPAK SUCI.
d. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf
pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya:
1. Ia mampu berbicara
dengan bahasa Arab.
2. Kita bangsa Indonesia, harus bertekad untuk
menyukseskan pembangunan.
3. Penduduk kota Jakarta masih lebih banyak
daripada penduduk kota Bukittinggi.
Akan tetapi, jika nama bangsa, suku,
dan bahasa itu sudah diberi awalan dan akhiran sekaligus, kata-kata itu harus
ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
1. Kita harus berusaha mengindonesikan kata-kata asing.
2. Kita tidak
perlu kebelanda-belandaan karena kita
adalah bangsa Indonesia.
3. Coba Anda hindarkan usaha mempranciskan bahasa Indonesia.
Demikian
juga, kalau tidak membawa nama suku, nama itu harus ditulis dengan huruf
kecil.
Misalnya: petai cina, dodol
garut, labu siam, gula jawa, kunci inggris.
e. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf
pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa
sejarah.
Misalnya:
1. Umat Islam seluruh dunia merasa sangat
berbahagai dan bersyukur pada hari Lebaran.
2. Salah satu perang yang paling
hebat adalah Perang Badr.
3. Saat ini kita berada di tahun 1428
Hijriah.
|