Halaman Utama
Browse this website in:









Serial Jurnalistik : Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital Cetak E-mail
Peringkat Tulisan: / 4
1 5  
Ditulis oleh Mohammad Iqbal Rasyid   
Kamis, 10 Mei 2007
Indeks Artikel
Serial Jurnalistik : Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital
Halaman 2

Kemampuan berbahasa pada sebuah organisasi dapat terlihat dari kemampuan orang-orang di dalam organisasi tersebut dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar--baik secara lisan maupun tulisan. Terlebih dalam rangka untuk penulisan karya tulis, surat atau korespondensi, penyiaran atau pengumuman, pemuatan berita, penulisan artikel, penulisan anggaran dasar atau aturan lainnya, ataupun tugas-tugas bidang kesekretariatan lainnya, maka keterampilan berbahasa sesungguhnya juga menjadi kebutuhan bagi sebuah organisasi.


Cermat berbahasa Indonesia, adalah amal ibadah kita sebagai manifestasi dari rasa cinta tanah air Indonesia. Tulisan ini adalah bagian pertama dari rangkaian tulisan yang mengangkat masalah keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang kiranya dapat berguna untuk setiap anggota dan pengurus TAPAK SUCI.

 
a. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat berupa petikan langsung.
Misalnya:
1. Dia bertanya, "Kapan kita pulang"
2. Ketua Umum mengatakan, "Sudah seharusnya TAPAK SUCI kini berbenah diri."
3. Rasulullah bersabda, "Dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu ada di neraka."

Catatan:
Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma (,), bukan titik dua (:). Tanda baca akhir (tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya) dibubuhkan sebelum tanda petik penutup.


b. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti-Nya. Huruf pertama pada kata ganti ku, mu, dan nya, sebagai kata ganti Tuhan, harus dituliskan dengan huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Hal-hal keagamaan itu hanya terbatas pada nama diri, sedangkan kata-kata yang menunjukkan nama jenis, seperti jin, iblis, surga, zakat, puasa- meskipun bertalian dengan keagamaan tidak diawali dengan huruf kapital.

Misalnya:
1. Limpahkanlah rahmat-Mu, ya Allah.
2. Semoga Allah Yang Mahakuasa memberkati usaha kita.
3. Menunaikan zakat adalah termasuk salah satu dari Rukun Islam.

Kata-kata keagamaan lainnya yang harus ditulis dengan huruf kapital adalah nama agama dan kitab suci.


c. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar (kehormatan, keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang.

Misalnya:
1. Pergerakan itu dipimpin oleh Haji Agus Salim.
2. Atas restu dari Pendekar Besar M. Wahib, maka didirikanlah Perguruan Kauman (atau Cikauman) pada tahun 1925.
3. Sebelum dipugar menjadi museum, dahulu bangunan ini adalah kediaman Jenderal Soedirman.

Jika tidak diikuti oleh nama orang atau nama wilayah, nama gelar, jabatan, dan pangkat itu harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya:
1. Jemaah haji Indonesia sudah mulai kembali ke tanah air.
2. Pertemuan itu dihadiri oleh pendekar-pendekar dari pusat.
3. Ia bercinta-cita menjadi jenderal.

Akan tetapi, jika mengacu kepada orang tertentu, nama gelar, jabatan, dan pangkat itu dituliskan dengan huruf kapital.
Misalnya
1. Acara itu dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
2. Dalam sambutannya, Ketua Umum mengharapkan agar setiap anggota lebih ulet mengembangkan kemampuannya untuk kepentingan TAPAK SUCI.


d. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Misalnya:
1. Ia mampu berbicara dengan bahasa Arab.
2. Kita bangsa Indonesia, harus bertekad untuk menyukseskan pembangunan.
3. Penduduk kota Jakarta masih lebih banyak daripada penduduk kota Bukittinggi.

Akan tetapi, jika nama bangsa, suku, dan bahasa itu sudah diberi awalan dan akhiran sekaligus, kata-kata itu harus ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
1. Kita harus berusaha mengindonesikan kata-kata asing.
2. Kita tidak perlu kebelanda-belandaan karena kita adalah bangsa Indonesia.
3. Coba Anda hindarkan usaha mempranciskan bahasa Indonesia.

Demikian juga, kalau tidak membawa nama suku, nama itu harus ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya: petai cina, dodol garut, labu siam, gula jawa, kunci inggris.


e. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:
1. Umat Islam seluruh dunia merasa sangat berbahagai dan bersyukur pada hari Lebaran.
2. Salah satu perang yang paling hebat adalah Perang Badr.
3. Saat ini kita berada di tahun 1428 Hijriah.

 


 
< Sebelumnya
   

Login Form






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar
 





TS on The Net